Tampilkan postingan dengan label Biologi. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Biologi. Tampilkan semua postingan

Selasa, 25 September 2018

Makalah: Cacing Daun (Trematoda Daun)

Makalah: Cacing Daun (Trematoda Daun)

BAB I
PENDAHULUAN


A.    Latar Belakang
Trematoda atau cacing daun termasuk dalam filum Platyhelminthesdan hidup sebagai parasit. Banyak sekali macam binatang yang sanggup berperan sebagai hospes definitif bagi cacing trematoda ,sebut saja kucing, anjing, sapi ,babi, tikus, burung, dan harimau. Tidak ketinggalan manusiapun ialah hospes utama bagi cacing trematoda. Trematoda berdasarkan tempat hidupnya dibagi menjadi empat yaitu trematoda hati, trematoda paru, trematoda usus, dan trematoda darah. (FKUI, 1998)
Trematoda berasal dari bahasa yunani Trematodaes yang berarti punya lobang,  bentuk tubuh pipih dorso ventral sperti daun.Umumnya tiruana organ tubuh tak punya ronggat tubuh dan mempunyai Sucker atau kait untuk menempel pada benalu ini di luar atau di organ dalam induk semang. Saluran pencernaaan mempunyai mulut, pharink, usus bercabang cabang. tapi tak punya anus.
 Sistem eksretori bercabang- cabang, mempunyai flame cell yaitu kantong eksretori yang punya lubang lubang di posterior. Hermaprodit, kecuali famili Schistosomatidae. Siklis hidup ada secara eksklusif (Monogenea) dan tak eksklusif (Digenea)
Trematoda atau cacing daun yang berparasit pada binatang sanggup dibagi menjadi tiga sub klas yaitu Monogenea, Aspidogastrea, dan Digenea. Pada binatang jumlah jenis dan macam cacing daun ini jauh lebih besar dari pada yang terdapat pada manusia, lantaran pada binatang sub klas ini sanggup dijumpai.
Dalam makalah ini kami mengulas khusus Dicrocoelium dendriticum yang ialah spesies dari genus Dicrocoelium dari sub klas Digenea,Semua cacing daun yang termasuk golongan sub klas Digenea ini berparasit pada siklus hidupnya. Sebagai induk semang mediator yakni mollusca tetapi kadang juga pelkecypoda. 


BAB II
PEMBAHASAN

Trematoda atau cacing daun yakni cacing yang tergolong trematoda filum plathyhelmintes atau cacing pipih yang bersifat parasit.
Secara umum cacing ini besifat hermafrodit atau biasa disebut benalu yang mempunyai 2 organ kelabuin yaitu kelabuin jantan dan kelabuin betina yang berfungsi secara penuh yang mempunyai batil isap lisan dan batil isap perut, hermafordit dari cacing ini sanggup digolongkan menjadi 2 pecahan yaitu
a.       Protandi ialah semenjak lahir mempunyai organ kelabuin jantan dan pada pintar balig cukup akal menjelma organ kelabuin betina
b.      Protogini ialah semenjak lahir mempunyai organ kelabuin betina dan sehabis pintar balig cukup akal menjelma organ kelabuin jantan
Cacing yang bersifat endoparasit ini atau cacing yang besar dalam tubuh inangnya ialah cacing yang menyerang manusia,adapun binatang yang berperan sebagai hospes mediator yaitu kucing,anjing,sapi,kambingharimau,burung,luak dan manusia.
Dan cacing atau benalu ini sanggup dibedakan berdasarkan tempat yang dihuni atau tempat hidup cacing ini dalam tubuh yaitu
·         Trematoda hati atau liver flukes yakni cacing daun atau cacing pipih yang hidup didalam organ hati
·         Trematoda usus atau intestinal flukes yaitu biasa disebut dengan cacing daun yang hidup dalam organ usus
·         Trematoda paru atau lung flukes yakni cacing daun yang hidup pada sekitar kawasan organ paru-paru
·         Dan yang terakhir yakni trematoda darah atau blood flukes ialah trematoda atau cacing daun yang hidup didalam darah

Trematoda ialah cacing pipih yang berbentuk mirip daun, dilengkapi dengan alat-alat ekskresi, alat pencernaan, alat reproduksi jantan dan betina yang menjadi satu (hermafrodit) kecuali pada Trematoda darah (Schistosoma). Mempunyai batil isap kepala di pecahan anterior tubuh dan batil isap perut di pecahan posterior tubuh. Dalam siklus hidupnya Trematoda pada umumnya memerlukan keong sebagai hospes mediator I dan binatang lain (Ikan, Crustacea , keong) ataupun tumbuh-tumbuhan air sebagai hospes mediator kedua. Manusia atau binatang Vertebrata sanggup menjadi hospes definitifnya. Habitat Trematoda dalam tubuh hospes definitif bermacam-macam, ada yang di usus, hati, paru-paru, dan darah.
Cacing trematoda banyak ditemukan di RRC, Korea, Jepang, Filipina, Thailand, Vietnam, Taiwan, India, dan Afrika. Beberapa spesies ditemukan di Indonesia seperti Fasciolopsis buski di Kalimantan,Echinostoma di Jawa  dan Sulawesi, HETEROPHYIDAE di Jakarta danSchistosoma japonicum di Sulawesi Tengah.

1.      Morfologi dan Daur Hidup
Pada umumnya bentuk tubuh cacing pintar balig cukup akal pipih dorsoventral dan simetris bilateral, tidak mempunyai rongga badan. Ukuran panjang cacing pintar balig cukup akal sangat berguaka ragam dari 1mm hingga kurang lebih 75mm. tanda khas lainnya yakni terdapat 2 buah batil isap, yaitu batil isap lisan dan batil isap perut. Beberapa special mempunyai batil isap genital. Saluran pencernaan enyerupai abjad Y terbalik yang dimulai dengan lisan dan berakhir buntu pada sekum. Pada umumnya trematoda tidak mempunyai alat pernapasan khusus, lantaran hidupnya secara anaerob. Saluran ekskresi terdapat simetris bilateral dan berakhir di pecahan posterior. Susunan saraf dimulai dengan ganglion di pecahan dorsal esophagus, kemudian terdapat seraf yang memanjang di bagian  dorsal,ventral dan lateral badan. Cacing ini bersifat hermafrodit dengan alat reproduksi yang konpleks.
Cacing pintar balig cukup akal hidup di dalam tubuh hospes definitive. Telur diletakkan disaluran hati, rongga usus, paru, pembuluh darah atau di jaenteng tempat cacing hidup dan telur biasanya keluar bersama tinja, dahak atau urin. Pada umumnya telur meliputi sel telur, spesialuntuk pada beberapa spesies telur sudah mengandung mirasidium ( M ) yang mempunyai bulu getar. Didalam air telur menetas jika sudah mengandung mirasidium ( telur matang ). Pada spesies trematoda yang mengeluarkan telur meliputi sel telur, telur akan menjadi matang dalam waktu kurang lebih 2-3 minggu. Pada beberapa spesies tremotoda telur matang menetas jika ditelan keong ( hospes peramtara ) dan keluarlah mirasidium yang masuk ke dalam keong; atau telur sanggup eksklusif menetas dan mirasidium berenang dalam air; dalam waktu 24 jam mirasidium harus sudah menemukan keong air semoga sanggup melanjutkan perkembangannya. Keong air di sini berfungsi sebagai hospes mediator pertama ( HP 1 ). Dalam keong air tersebut mirasidium berkembang menjadi sebuah kantung yang meliputi embrio, yang di sebut sporokista ( S ). Spoprokista ini sanggup mengandung sporokista lain atau redia ( R );bentuknya berupa kantung yang sudah mempunyai mulut, faring dan sekum. Didalam dompet sporokista II atau redia ( R ), larva berkembang menjadi serkaria ( SK ).

Perkembangan larva alam hospes mediator I mungkin terjadi sebagai diberikut :
M         S          R          SK                 : misalnya Clonorchis sinesis
M         S1        S2        SK                  : misalnya Schistosoma
M         S          R1        R2        SK     : contohnya trematoda lainnya

Serkaria kemudian keluar dari keong air dan mencari hospes mediator II yang berupa ikan, tumbuh-tumbuhan air, ketam, udang watu dan keong air lainnya, atau sanggup menginfeksi hospes definitive secara eksklusif mirip pada Schitosoma. Dalam hospes mediator II serkaria menjelma metaserkaria yang berbebtuk kista. Hospes definitive menerima infeksi jika makan hospes mediator II yang mengandung metaserkaria yang tidak dimasak dengan baik. Infeksi cacing Schistosoma terjadi dengan cara serkaria menembus kulit hospes  definitive yang kemudian menjelma skistosomula, kemudian berkembang menjadi cacing pintar balig cukup akal dalam tubuh hospes.

2.      Patologi dan Gejala Klinis
Kelainan yang disebabkan cacing daun tergantung dari lokalisasi cacing dalam tubuh hospes; selain itu ada juga efek rangsangan setempat dan zat toksin di keluarkan oleh cacing. Reaksi sistemik terjadi lantaran absorbsi zat toksin, sehingga menghasilkan tanda-tanda alergi, demam, sakit kepala dan lain-lain. Cacing daun yang hidup di rongga usus biasanya tidak memdiberi tanda-tanda atau spesialuntuk tanda-tanda gastrointestinal enteng mirip mual, muntah, sakit perut dan diare. Bila cacing hidup dijaenteng paru seperti Paragonimus, mungkin menimbulkan tanda-tanda batuk, sesak napas dan mungkin terjadi batuk darah (hemoptisis). Cacing yang hidup di jalan masuk empedu hati sepertiClonorchis, Opisthorchis, dan Fasciola dapat menimbulkan rangsangan dan mengakibatkan peradangan jalan masuk empedu, sanggup mengakibatkan penyumbatan fatwa empedu sehingga menimbulkan tanda-tanda ikterus. Akibat lainnya yakni peradangan hati sehigga terjadi hepatomegali. Cacing Schistosoma yang hidup di pembuluh darah, ternyata terutama telurnya menimbulkan kelainan yang berupa peradangan, pseudo-abses dan risikonya terjadi fibrosis jaenteng alat yang diinfiltrasi oleh telur cacing ini, mirip dinding usus, dinding kandung kemih, hati, jantung, otak dan lain-lain.

3.      Diagnosis dan Pengobatan
Diagnosis dibentuk dengan menemukan telur dalam tinja, dahag, urin atau dalam jaenteng biopsi, sanggup pula dengan reaksi serologi untuk memmenolong menegakan diagnosis. Obat yang terbaik untuk mencegah cacing daun yakni prazikuantel (Biltricide, Distocide).

4.      Etiologi
Penyakit dicrocoeliasis disebabkan oleh cacing hati dicrocoelium dendriticum yang biasanya terdapat di dalam pembuluh empedu domba, rusa, babi, anjing, mamalia lain, dan kadang – kadang pada insan di Eropa,Asia, dan Amerika Utara (Anonimus, 2009).

5.      Morfologi
·         Tubuh memanjang,  dengan panjang 6-10 × 1,5-2,5 mm. Bagian anterior sempit di pecahan lengan melebar
·         Diposterior alat kelabuindipenuhi uterus yang bercabang-cabang
·         Telur coklat 36-45×20-32 mikron, beropeculum
·         Terdapat didalam duktus biliverus domba, kambing, sapi, anjing, keledai, kelinci, jarang pada manusia

6.      Siklus Hidup
·         Host intermediet 1 : siput
·         Host intermediet 2 : tiruant
Telur dimakan H.I → menetas→ mirasidium→ migrasi ke glandula mesenterika→ sporosiste→ sporosiste anak → serkaria→ bergerombol, satu sama lain dilekat kan oleh subtansi gelatinous yang disebut “SLIME BALLS”→ mengandung 200-400 serkaria→ dikeluarkan dari siput→ menempel di tumbuh-tumbuhan.
Slime balls dimakan tiruant. Metaserkaria di cavum abdominalis tiruant ± 128 per tiruant. Dapat juga memasuki otak tiruant. Induk semang definitif terinfeksi lantaran makan tiruant→ duktus biliverus→ hati Cacing yang kecil masuk kecabang duktus biliverus→menempel dengan perubahan patologi tidak begitu tampak untuk memproduksi telur yang di butuhkan sekitar 11 ahad sehabis binatang memakan metaserkaria (dibanding Fasciola hepatica) kecuali ada infeksi berat. Pada infeksi lanjut→ Cirrhosis hepatica dan terbentuk pada permukaan hati, duktus biliverus melebar terisi cacing.  

7.      Distribusi
Terdapat di dalam pembuluh empedu domba, rusa, babi, anjing, mamalia lain, dan kadang – kadang pada insan di Eropa,Asia,New york dan Amerika Utara (Anonimus, 2009).

8.      Predileksi
Predileksi didalam duktus biliverus domba, kambing, sapi, anjing, keledai, kelinci, jarang pada manusia.

9.      Host
·         Host intermediet  1 : siput →Cionella lubrica
·         Host intermediet  2 : Semut→ famili formica
·         Host definitif pada domba, kambing, sapi, anjing, keledai, kelinci, jarang pada insan yang tergoda host intermediet 2

10.  Gejala Klinis
·         Oedema dan kurus tetapi pada beberapa insiden tidak ada tanda-tanda klini
·         Serosis pada permukaan liver dan duktus empedu
·         Adanya guamia 
·         Terjadinya proliferasi glandula epitel pada duktus biliverus

11.  Patogenesa
Cacing kecil mengadakan penetrasi dalam duktus biliverus infeksi yang tinggi pernah terjadi pada domba kira-kira 2000 D.denriticum. Di Spanyol 34℅ sapi, Domba 23℅, 45℅ pada kambing, Switzerland 40℅.

12.  Diagnosa
·         Gejala klinis
·         Sejarah pastur
·         Ditemukan D.denriticum imatur dalam feses cair
·         Post mortem yaitu serosis ialah sejumlah besar cacing ditemukan pada duktus biliverus
Diagnosis untuk infeksi dicrocoeliasis melibatkan identifikasi D. dendriticum telur dalam kotoran insan atau hewan. Namun, pada manusia, telur dalam tinja mungkin hasil dari binatang yang terinfeksi menelan mentah hati dan mungkin tidak pada kenyataannya menunjukkan dicrocoeliasis. Oleh lantaran itu, mengusut cairan empedu atau duodenum untuk telur yakni metode diagnostik yang lebih akurat.
Pada hewan, diagnosa melibatkan  bedah bangkai dari hati. Baru-baru ini, sebuah ELISA memakai antigen D. dendriticum bisa mengidentifikasi perkara dicrocoeliasis domba di Italia..

B.     JENIS-JENIS TREMATODA
1.      Trematoda Hati (Clonorchis sinensis)
Cacing ini pertama kali ditemukan oleh Mc Connell tahun 1874 disaluran empedu pada seorang cina di kalkuta.hospes dari benalu ini yakni manusia, kucing, anjing, beruang kutub dan babi. Penyakit yang disebabkan oleh cacing ini yakni klonorkiasis. Trematoda hati banyak di temukan di Cina, Jepang, Korea dan Vietnam. Penyakit yang ditemukan di Indonesia bukan infeksi autokton.

a.      Morfologi dan Daur Hidup
Cacing pintar balig cukup akal hidup di jalan masuk empedu, adakala di tetemukan di jalan masuk pancreas. Ukuran cacing pintar balig cukup akal 10-25 mm x 3-5 mm, bentuknya pipih, lonjong, ibarat daun. Telur berukuran kira-kira 30x16 mikron, bentuknya mirip bola lampu pijar dan meliputi mirasidium, di temukan di jalan masuk empedu.
Telur di keluarkan dengan tinja. Telur menetas jika dimakan keong air. Dalam keong air, mirasidium berkembang menjadi sporokista, redia kemudian sarkaria. Serkaria keluar dari air dan mencari hospes mediator II, yaitu ikan. Sesudah menembus masuk tubuh ikan serkaria melepaskan buntutnya dan membentuk kista didalam kulit dibawah sisik. Kista ini disebut metaserkaria.
Infeksi terjadi dengan makan ikan yang mengandung metaserkaria yang dimasak kurang matang. Ekskistasi terjadi di duodenum. Kemudian larva masuk di dektus koledokus, kemudian menuju ke jalan masuk empedu yang lebih kecil dan menjadi pintar balig cukup akal dalam waktu sebulan. Seluruh daur hidup berlangsung selama 3 bulan.

b.      Patologi dan Gejala Klinis
Sejak larva masuk disaluran empedu hingga menjadi dewasa, benalu ini sanggup mengakibatkan iritasi pada jalan masuk empedu dan penebalan dinding saluran. Selain itu sanggup terjadi perubahan jaenteng hati yang berupa radang sel hati. Pada keadaan lebih lanjut sanggup timbul sirosis hati disertai asites dan edema. Luasnya organ yang mengalami kerusakan bergantung pada jumlah cacing yang terdapat disaluran empedu dan lamanya infeksi.
Gejala sanggup dibagi menjadi 3 stadium. Pada stadium enteng tidak ditemukan gejala. Stadum progresif ditandai dengan menurunya nafsu makan, perut terasa penuh, diare, edema dan pembemasukan hati. Pada stadium lanjut didapatkan sindrum hipertensi portal yang terdiri dari pembemasukan hati, ikterus, asites, edema, sirosi hepatis. Kadang-kadang sanggup menimbulkan keganasan dalam hati.

c.       Diagnosis dan Pengobatan
Diagnosis ditegakan dengan menemukan telur yang berbentuk khas dalam tinja atau dalam cairan duodenum. Penyakit ini sanggup diobati dengan parazikuantel.

2.      Trematoda Paru
Manusia dan binatang yang memakan ketam/udang batu, mirip kucing, luak, anjing, harimau, srigala dan lain-lain ialah hospes cacing ini. Pada insan benalu ini mengakibatkan paragonimiasis. Cacing ini banyak ditemukan di RRC, Taiwan, Korea, Jepang, Filipina, Vietnam, Thailand, India, Malaysia, Afrika dan Amerika Latin. Di Indonesia ditemukan autokton pada binatang, sedangkan pada manusi spesialuntuk sebagai perkara inpor saja.

a.      Morfologi dan Daur Hidup
Cacing pintar balig cukup akal hidup dalam kista di paru. Bentuknya bulat lonjong ibarat biji kopi dengan ukuran 8-12 x 4-6 mm dan berwarna coklat tua. Batil isap lisan hamper sama besa dengan batil isap perut. Testis berlobus terletak berdampingan antara antara bakteri isap perut dan buntut. Ovarium terletak di belakang batil isap perut. Telur berbentuk lonjong berukuran 80-118 mikron x 40-60 mikron dengan operculum agak tertekan kedalam. Waktu keluar bersama tinja atau sputum, telurnya belum meliputi mirasidium.
Serkaria keluardari keong air, berenang mencari hospes mediator II yaitu ketam atau udang batu, kemudian membentuk metaserkaria di dalam tubuhnya. Infeksi terjadi dengan makan ketam atau udang watu yang tidak dimasak hingga matang.
Dalam hospes defenitif, metaserkaria menjadi cacing pintar balig cukup akal muda di duodenum. Cacing pintar balig cukup akal muda bermigrasi menembus dinding usus, masuk ke rongga perut, menembus diafragma dan menuju ke paru. Jaenteng hospes mengadakan reaksi jaenteng sehingga cacing pintar balig cukup akal terbungkus dalam kista, biasanya ditemukan 2 buntut di dalamnya.

b.      Patologi dan Gejala Klinis
Karena cacing pintar balig cukup akal berada dalam kista di paru, maka tanda-tanda di mulai dengan adanya batuk kering yang usang kelabuaan menjadi batuk dara. Keadaan ini disebut endemic hemoptysis. Cacing pintar balig cukup akal sanggup pula bermigrasi kea lat-alat lain dan menimbulkan benjol pada alat tersebut (antara lain hati, limpa, otak, otot, dinding usus).

c.       Diagnosis dan Pengobatan
Diagnosis dibentuk dengan menemukan telur dalam sputum atau cairan pleura. Kadang-kadang telur juga ditemukan dalam tinja. Reaksi serologi sangat memmenolong untuk menegakan diagnosis. Prazikuantel dan bitionol ialah obat pilihan yang baik untuk menanggulangi cacing ini.

3.      Trematoda Usus
Macam-macam spesies Trematoda usus adalah: F. buski, H. heterophyes, M. yokagawai, Echinostoma, Hypoderaeum danGastrodiscus. F. buski adalah suatu trematoda yang didapat pada insan atau binatang yang mempunyai ukuran terbesar diantara trematoda lainnya. Cacing Hypoderaeum  adalah cacing trematoda kecil spesialuntuk kurang lebih beberapa millimeter. Manusia menjadi hospes definitifnya dan hewan-hewan lain mirip mamalia (anjing, kucing) dan burung sanggup menjadi hospes reservoar.

a.      Morfologi dan Daur Hidup
Cacing F. buski yang ditemukan pada insan mempunyai ukuran panjang 2-7,5 cm dan lebar 0.8-2,0 cm. bentuknya agak lonjong dan tebal. Biasanya kutikulum ditutupi duri-duri kecil yang letak dan posisinya melintang. Cacing Hypoderaeum berukuran panjang antara 1-1.7 mm dan lebar antara 0,3-0,75 mm,keculai genus haplorcis yang jauh lebih kecil, yaitu panjang 0,41-0,51 mm dan lebar 0,24-0,3 mm. di samping batil isap perut, ciri-ciri khas yang lain yakni batil isap kelabuin yang terdapat di sebelah kirai belakang.
Siklus hidup selalu memerlukan keong sebagai hospes mediator I dan hospes mediator II (keong : Echinostoma, tumbuhan air F.buski; ikan H.heterophyes dan M.yokogawai).

b.      Patologi dan Gejala Klinis
Patologi penyakit yang disebabkan oleh Trematoda usus disebabkan oleh perlekatan cacing pada mukosa usus dengan batil isapnya. Semakin besar ukuran cacing maka semakin parah kerusakan yang ditimbulkan. Gejala klinis tergantung jumlah benalu dalam usus, pada infeksi enteng tanda-tanda tidak nyata, sedangkan pada infeksi berat tanda-tanda yang timbul yakni sakit perut, diare, dan jawaban terjadinya malabsorpsi bisa timbul edema.

c.       Diagnosis dan Pengobatan
Diagnosis dilakukan dengan menemukan telur dalam tinja penderita. Bila bentuk telur hampir sama maka perlu menemukan cacing dewasanya dalam tinja penderita. Obat-obatan untuk trematoda usus hampir sama, yaitu tetrakloretilen, heksilresorsinol, dan praziquantel.

4.      Trematoda Darah
Pada insan ditemukan 3 spesies penting: Schistosoma japonicum, Schistosoma mansomi dan Schistosoma haematobium.Selain spesies yang ditemukan pada manusia, masih banyak spesies yang hidup pada binatang dan adakala sanggup menghinggapi manusia. Hospes definitifnya yakni manusia. Berbagai macam binatang sanggup berperan sebagai hospes reservoir. Pada manusia, cacing ini mengakibatkan penyakit skitosomiasis atau bilharziasis.

a.      Morfologi dan Daur Hidup
Cacing pintar balig cukup akal jantan berwarna kelabu atau putih kehitam-hitaman, berukuran 9,5 – 19.5 mm x 0.9 mm. Badannya berbentuk bulat dan pada kutikulumnya terdapat tojolan halus hingga berangasan tergantung spesiesnya. Di pecahan ventral tubuh terdapat Canalis gynaecophorus, tempat cacing betina, sehingga tampak seperti cacing betina ada di dalam pelukan cacing jantan. Cacing betina badannya lebih halus dan panjang, berukuran 16,0 – 26,0 mm x 0.3 mm. Pada umumnya uterus meliputi 50- 300 butir telur. Cacing trematoda ini hidup di pembuluh darah terutama dalam kapiler darah dan vena kecil bersahabat permukaan selaput lender usus atau kandung kemih.
Cacing betina meletakan telur di pembuluh darah. Telur tidak mempunyai operkulum.  Telur Cacing Schistosomamempunyai duri dan liaklisasi duri tergantung pada spesiesnya. Telur berukuran 95 – 135 x 50 – 60 mikron. Telur sanggup menembus keluar dari pembuluh darah, bermigrasi di jaenteng dan risikonya masuk ke lumen usus atau kandung kemih untuk kemudian di dalam tinja atau urin. Telu menetas di dalam air, larva yang keluar disebut mirasidium.
Cacing ini spesialuntuk mempunyai satu macam hospes mediator yaitu keong air, tidak terdapat hospes mediator kedua. Mirasidium masuk ke dalam tubuh keong air dan berkembang menjadi sprokista I dan sporokista II dan kemudian menghasilkan serkaria yang banyak. Serkaria yakni bentuk infektif cacingschistosoma. Teknik infeksi pada insan yakni serkaria menembus kulit pada waktu insan masyk ke dalam air yang mengandung serkaria. Waktu yang diharapkan untuk infeksi yakni 5-10 menit. Sesudah serkaria menembus kulit, larva ini kemudian masu ke dalam kapiler darah, mengalir dengan fatwa darah masuk ke jantung kanan, kemudian paru dan kembali ke jantung kiri; kemudian masuk ke sistim peredaran darah besar, ke cabang-cabang vena portae dan menjadi pintar balig cukup akal di hati. Sesudah pintar balig cukup akal cacing ini kembali ke vena portae dan vena usus atau kandung kemih dan kemudian cacing betina bertelur sehabis berkopulasi.

b.      Patologi dan Gejala Klinis
Perubahan-perubahan yang terjadi disebabkan oleh 3 stdium cacing ini yaitu serkaria, cacing pintar balig cukup akal dan telur. Perubahan-perubahan pada schistosomiasis sanggup dapat ibagi dalam tiga stadium:

·         Masa tunas biologik
Waktu antara serkaria menembus kulit hingga menjadi pintar balig cukup akal disebut masa tunas biologic. Perubahan kulit yang timbul berupa eritema dan vapula yang disertai perasaan gatal dan gerah. Bila banyak jumlah serkaria menembus kulit, maka akan terjadi dermatitis. Biasanya kelainan kulit hilang dalam waktu 2 atau 3 hari

·         Stadium akut
Stadium ini dimulai semenjak cacing betina bertelur. Telur yang diletakan di dalam pembuluh darah sanggup keluar dari pembuluh darah, masuk ke dalam jaenteng sekitarnya dan risikonya sanggup mencapai lumen dengan cara menembus mukosa, biasanya mukosa usus. Efek patologis maupun tanda-tanda klinis yang disebabkan telur tergantung dari jumlah telur yang dikeluarkan, yang berafiliasi eksklusif dengan jumlah cacing betina.

·         Stadium menahun
Pada stadium ini terjadi penyembuhan jaenteng dengan pembentukan jaenteng ikat atau vibrosis. Hepar yang tiruanla membesar lantaran peradangan, kemudian mengalami pengecilan lantaran terjadi vibrosis, hal ini disebut sirosis. Pada schistosomiasis, sirosis yang terjadi yakni sirosis periportal, yang mengakibatkan terjadinya hipertensi portal lantaran adanya bendungan di dalam jaenteng hati.

c.       Diagnosis dan Pengobatan
Diagnosis dibentuk dengan menemukan telur dalam tinja, urin atau jaenteng biopsi. Reaksi serologi sanggup memmenolong menegaka diagnosis. Pada umumnya sanggup dikatakan bahwa obat-obat anti Schistosoma tidak ada yang kondusif atau agak toxik dan tiruananya mempunyai resiko masing-masing.
Sperti sudah diketahui cacing pintar balig cukup akal hidup di dalam vena mesenterika insan dan binatang. Pengaruh obat antiSchistosoma dapat mengakibatkan terlepasnya pegangan cacing pintar balig cukup akal pada pembuluh darah dan mengakibatkan tersapunya cacing tersebut ke dalam hati oleh sirkulasi portal, keadaan ini disebut Hepatic shift.

BAB III
PENUTUP

A.    Kesimpulan
·         Trematoda atau cacing daun yakni cacing yang tergolong trematoda filum plathyhelmintes atau cacing pipih yang bersifat parasit.
·         Secara umum cacing ini besifat hermafrodit atau biasa disebut benalu yang mempunyai 2 organ kelabuin yaitu kelabuin jantan dan kelabuin betina yang berfungsi secara penuh yang mempunyai batil isap lisan dan batil isap perut,
·         Trematoda berasal dari bahasa yunani Trematodaes yang berarti punya lobang,  bentuk tubuh pipih dorso ventral sperti daun.Umumnya tiruana organ tubuh tak punya ronggat tubuh dan mempunyai Sucker atau kait untuk menempel pada benalu ini di luar atau di organ dalam induk semang. Saluran pencernaaan mempunyai mulut, pharink, usus bercabang cabang. tapi tak punya anus.
·         Cacing trematoda banyak ditemukan di RRC, Korea, Jepang, Filipina, Thailand, Vietnam, Taiwan, India, dan Afrika. Beberapa spesies ditemukan di Indonesia seperti Fasciolopsis buski di Kalimantan,Echinostoma di Jawa  dan Sulawesi, Heterophyidae di Jakarta danSchistosoma japonicum di Sulawesi Tengah.
·         Pada umumnya bentuk tubuh cacing pintar balig cukup akal pipih dorsoventral dan simetris bilateral, tidak mempunyai rongga badan. Ukuran panjang cacing pintar balig cukup akal sangat berguaka ragam dari 1mm hingga kurang lebih 75mm. tanda khas lainnya yakni terdapat 2 buah batil isap, yaitu batil isap lisan dan batil isap perut.

B.     Saran
Dalam Pembahasan materi di atas terkena  Trematoda (cacing daun ) mngkin masih banyak belum sempurnanya, baik di segi penulisan ataupun di dari penyusunan kalimat dan kata-katamya,oleh sebap itu penulis minta maaf sebesar-besarnya kepada dosen dan mahasiswa tiruana, terimakasih      

Selengkapnya Klik DOWNLOAD
Makalah: Cacing Usus (Trematoda Usus)

Makalah: Cacing Usus (Trematoda Usus)

BAB I
PENDAHULUAN


A.    Latar Belakang
Pada makalah ini penulis akan mengulas wacana trematoda usus (fasiliopsis buski) dimana perlu di ketahui bahwa Trematoda usus yang berperan dalam kedokteran ialah dari keluarga fasciolidae,echinostomatidae dan heterophyidae. dalam daur hidup trematoda usus tersebut,seperti pada trematoda lain,diperlukan keong sebagai hospes mediator I,tempat mirasidium tumbuh menjadi sporokista ,berlanjut menjadi redia dan serkaria.serkaria yang di bentuk dari redia ,kemudian melepaskan diri untuk keluar dari tubuh keong dan berenang bebas dalam air.tujuan final serkario tersebut ialah hospes mediator II,yang sanggup berupa keong jenis yang lebih besar,bebrapa jenis ikan air tawar atau tumbuh-tumbuhan air.
Manusia mendapat penyakit cacing daun lantaran memakan hospes mediator II yang tidak di masak hingga matang.

B.     Tujuan
Dalam pembuatan makalah ini kami bertujuan supaya makalah ini sanggup di gunakan sebagai penunjang proses berguru mengajar khususnya untuk mahasiswa jurusan keperawatan selain itu makalah ini di buat sebagai wujud kiprah dari mata kuliah parasitologi,harapan penulis semoga makalah ini sanggup di gunakan sebagaimana mestinya.


BAB II
PEMBAHASAN


A.       Sejarah
Cacing trematoda fasciolopsis buski ialah suatu trematoda yang di dapatkan pada insan atu hewan.trematoda tersebut mempunyai ukuran terbesar di antara treramatoda lain yang di temukan pada manusia.
Cacing ini pertama kali di temukan oleh busk (1843) pada otoupsi seorang pelaut yang meninggal di London 

B.        Hospes Dan Nama Penyakit
Kecuali insan dan babi yang sanggup menjadi hospes definitif cacing tersebut,hewan lain menyerupai anjing dan kelinci juga sanggup di hinggapi.penyakit yang di sebabkan cacing ini di sebut ;fasiolopsiasis

C.       Distribusi Geografis
       Fasciolopsis buski ialah cacing trematoda yang sering di temukan pada insan dan babi di RRC. cacing ini juga dilaporkan dari aneka macam Negara menyerupai Taiwan,Vietnam,Thailand,India,dan Indonesia.

D.       Morfologi Daur Hidup
Cacing remaja yang di temukanpada insan mempunyai ukuran panjang 2-7,5cm dan lebar 0,8-2,0cm.bentuknya agak lonjong dan tebal.biasanya kutikulum di tutupi duri-duri kecil yang letak dan posisinya melintang.duri-duri tersebut sering rusak lantaran cairan usus.batil isap berukuran kira-kira ¼ ukuran batil isap perut. jalan masuk pencernaan terdiri dari prefaring yang pendek,faring yang menggelembung,eshofagusyang pendek,serta sepasang sekum yang tidak bercabang,dengan dua identasi yang khas.dua buah testis yang bercabang cabang letak dan posisinya agak tandem di potongan posterior dari cacing.pitelaria letak dan posisinya lebih lateral dari sekum,meliputi tubuh cacing setinggi batil isap perut hingga keujung tubuh ovarium bentuknya agak bulat.uterus berpertama pada ootip,berkelok-kelok kearah anterior tubuh cacing,ukurang bermuara pada atrium genital,pada sisi anterior batil isap perut.
Telur berbentuk agak lonjong berdingding tipis transparan,dengan sebuah operculum yang nyaris terlihat pada sebuah kutubnya,berukurang panjang 130-140mikron dan lebar80-85mikron.setiap buntut cacing sanggup mengeluarkan 5000-48000betir telur sehari.telur-telur tersebut dalam air bersuhu 70derajat hingga 32derajat C,menetas setelah 3-7 minggu.mirasidium yang bersilia keluar dari telur yang menetas,berenang bebas dalam air untuk masuk ke dalam tubuh hospes mediator I yang sesuai.biasanya hospes mediator I tersebut ialah keong air tawar,seperti genus segmentina,hippeutus,dan gyraulus,dalam keong, mirasidum tumbuh menjadi sporokista yang lalu berpindah ke kawasan jantung dan hati keong.bila sporokista matang menjadi koyak dan melepaskan banyak radia induk.dalam radia di bentuk banyak radia anak,yang pada giliranya membentuk serkaria,sarkaria ini menyerupai miresidum yang sanggup berenang bebas dalm air,berbentuk menyerupai kecebong ,buntutnya melurus dan meruncing pada ujungnya,berukurang kira-kira 500mikron dengan tubuh agak bulatdengan berukuran 195mikron x 145mikron.

E.        Patologi Dan Gejala Klinis
Cacing remaja fasciolopsis buski,melekat denan mediator batil isap perut pada mukosa usus muda menyerupai duodenum dan yeyenum,cacing ini memakan isi usus,maupun permukaan mukosa usus,pada tempat pelekatan cacing tersebut terdapat peradangan ,tukak(ulkus),maupun abses,apabila terjadi pengikisan kapiler pada tempat tersebut ,maka timbul pendarahan,cacing dalam jumlah besar sanggup mengakibatkan sumbatan yang mengakibatkan tanda-tanda ileus akut.
Gejala klinis yang dini pada final masa inkubasi ,adalah diare dan nyeri,uluhati (epigastrium) diare yang mulanya di selingi konstipasi,kemudian menjadi persisten,warna tinja menjadi hijau kuning,berbau busuk dan meliputi masakan yang tidak di cerna,pada beberapa pasien nafsu makan cukup baik atau berlebihan walaupun ada yang mengalami tanda-tanda mual,muntah,atau tidak mempunyai selera (tiruana ini tergantung dari berat entengya penyakit)

F.        Diagnosis
Sering tanda-tanda klinis menyerupai di atas di dapatkan di suatu kawasan pada ademi,cukup untuk membuktikan adanya penderita fasiolopsiasis namun diagnosa niscaya dengan menemukan telur dalam tinja.

G. PENGOBATAN

Obat yang efektif untuk penyakit ini ialah diklorofen ,niklosamid,dan prazikuantel.

H.PROGNOSIS
Penyakit ini yang berat dalam mengakibatkan kematian,akan tetapi kalau di lakukan pengobatan sedini mungkin masih sanggup memdiberi keinginan untuk sembuh,masalah yang penting ialah reinfeksi yang sering terjadi pada penderita.

I. EPIDEMIOLOGI
Infeksi pada insan tergantung pada kebiasaan makan tumbuh-tumbuhan air yang mentah dan tidak di masak hingga matang.membudidayakan tumbuh-tumbuhan air di kawasan yang terkotori dengan kotoran insan maupun babi,dapat menyebarluaskan penyakit tersebut,kebiasaan terkena defekasi,pemmembuangan kotoran ternak dan cara membudidayakan tumbuh-tumbuhan air untuk konsumsi harus di ubah atau di perbaiki,untuk mencegah meluasnya penyakit fasiolopsiasis.

BAB III
PENUTUP
A. kesimpulan

Cacing trematoda fasciolopsis buski ialah suatu trematoda yang di dapatkan pada insan atau hewan.trematoda tersebut mempunyai ukuran terbesar Cacing trematoda fasciolopsis buski pertama kali di temukan oleh busk (1843),cacing ini bias sangat berbahaya kalau si penderita tidak segera mengobati di karenakan penderita penyakit ini sanggup mengalami kematian,akan tetapi kalau segera di obati ingsyaallah akan sembuh juga.

B. SARAN
Penulis menyadari bahwa makalah ini masih jauh dari kesempurnaan oleh lantaran itu penulis meminta supaya pembaca berkenan mempersembahkan Koreksi dan masukan demi kesempurnaan di masa menhadir, amien yaa robbal alamien.

DAFTAR PUSTAKA
Gandahusada srisasi.parasitologi kedokteran.edisi ke tiga.fakultas kedokteran universitas Indonesia.jakarta

Selengkapnya Klik DOWNLOAD

Senin, 24 September 2018

Makalah: Apes (Kelas Apes, Morfologi, Struktur, Fisiologi Danklasifikasi Vertebrata)

Makalah: Apes (Kelas Apes, Morfologi, Struktur, Fisiologi Danklasifikasi Vertebrata)

BAB I
PENDAHULUAN

A.    Aves)
Hampir setiap penggalan dari anatomi burung yang khas termodifikasi dalam beberapa hal untuk meningkatkan kemampuan terbang. Tulang-tulang burung mempunyai struktur internal yang ibarat masukang lebah, yang membuat mereka berpengaruh namun enteng. Adaptasi lain yang mengurangi berat burung yakni tidak adanya beberapa organ, contohnya : 
1.      Pada burung betina yang spesialuntuk mempunyai satu ovarium. 
2.      Selain itu burung modern juga tidak bergigi, suatu pembiasaan yang mengurangi bobot kepala. 
3.      Adaptasi lainnya mirip Makanan yang tidak dikunyah dalam verbal tetapi digerus di dalam empedal (organ pencernaan yang terletak akrab lambung). 
4.      Paruh burung yang terbuat dari keratin, terbukti sangat adaptif selama evolusi burung dan terdapat dalam bermacam-macam bentukyang sesuai dengan jenis kuliner yang tidak sama-beda. 
Saat terbang burung memerlukan berbagai pengeluaran energi dari metabolisme aktif. Burung ialah binatang endodermik yang memakai gerah metabolismenya sendiri untuk mempertahankan suhu tubuh yang hangat dan konstan. Bulu dan lapisan lemak pada beberapa spesies mempersembahkan penyekatan yang memungkinkan unggas untuk mempertahankan gerah yang dihasilkan dari metabolisme tersebut.
Sistem pernafasan yang efisien dan sebuah sistem peredaran darah dengan sebuah jantung empat-ruang menjaga semoga jaenteng tetap menerima suplai oksigen dan zat-zat kuliner yang mencukupi, sehingga mendukung laju metabolisme yang kuat. Paru-paru yang efisien mempunyai pipa halus yang menuju ke dan dari kantung udara lentur yang memmenolong memmembuang gerah dan mengurangi kerapatan tubuh.
Untuk penerbangan yang aman, dibutuhkan alat indera yang tajam untuk penglihatan. Burung mempunyai mata yang sangat bagus, mungkin yang terbaik diantara tiruana vertebrata. 
Secara proporsional, otak burung lebih besar dibandingkan dengan otak reptile dan amfibi, burung umumnya memperlihatkan sikap yang sangat kompleks. Tingkah laris burung umumnya sangat rumit selama trend kawin. Karena telur sudah bercangkang dikala dikeluarkan, fertilisasi harus terjadi secara internal. Kopulasi melibatkan kontak antara lubang pasangan kawin tersebut, yaitu lubang bukaan kloakanya masing-masing. Sesudah telur diletakkan, embrio burung harus dipertahankan dan dijaga supaya tetap hangat dengan di erami oleh induk betina, induk jantan, atau keduanya, bergantung pada spesies.
Adaptasi burung yang paling terang untuk terbang yakni akup. Sayap burung ialah Airfoil yang menggambarkan prinsip aerodinamika yang sama mirip akup pesawat terbang. Untuk menyediakan kekuatan untuk terbang, burung mengepakkan akupnya dengan cara kontraksi otot pectoral (dada) besar yang ditambatkanke suatu taju (keel) pada tulang dada. Beberapa burung, mirip burung rajpertamai dan elang, mempunyai akup yang diadaptasikan untuk meluncur spesialuntuk dengan menolongan pemikiran udara maupun tiupan angin dan spesialuntuk sekali mengepakkan akupnya. Burung lain mirip burung kolibri, harus mengepakkan akupnya terus menerus untuk mempertahankan dirinya tetap melayang di udara. Pada kedua kasus tersebut, bentuk dan pengaturan bulu itulah yang membentuk akup menjadi suatu airfoil.


BAB II
PEMBAHASAN

A.    Kelas Aves
Kelas Aves yakni kelas binatang vertebrata yang berdarah gerah dengan mempunyai bulu dan akup. Tulang dada tumbuh membesar dan memipih, anggota gerak belakang mengikuti keadaan untuk berjalan, berenang dan bertengger. Mulut sudah termodifikasi menjadi paruh, punya kantong hawa, jantung terdiri dariempat ruang, rahang bawah tidak mempunyai gigi alasannya yakni gigi-giginya sudah menghilang yang digantikan oleh paruh enteng dari zat tanduk dan berkembang biak dengan bertelur.
Kelas ini dimanfaatkan oleh insan sebagai. Aves adalahhewan paling dikenal orang alasannya yakni sanggup dilihat dimana-mana, aktif pada sianghari, dan unik dalam hal mempunyai bulu sebagai epilog tubuh. melaluiataubersamaini bulu itu tubuh sanggup mengatur suhunya dan berfungsi juga untuk terbang. melaluiataubersamaini kemampuan terbang itu aves mendiami tiruana tempat. Warna dan bunyi dari beberapa aves ialah daya tarik dan mempunyai nilai ekonomi.
Beberapa jenis aves ialah materi kuliner sebagai sumber protein. Ilmu yang mempelajari burung disebut Ornithologi. (Jasin, 1992).
Burung atau aves yakni salah satu kelompok yang paling banyak dan paling populer di dunia. Mereka berdarah gerah mirip mamalia tetapi lebihdekat kekerabatannya dengan reptil, mereka berkembang semenjak 135 juta tahun yang lalu. Semua burung lebih doloe bernenek moyang dari fosil burung pertama, yaitu Archaeopteryx. (Mac Kinnon, 1991).
Aves yakni vertebrata yang mempunyai ciri-ciri sebagai diberikut : adanya bulu yang menutupi tubhnya, anggota gerak depan sudah termodifikasi menjadi akup, anggota gerak belakang teradaptasi untuk berjalan, berenan dan bertengger, pada tungkai terdapat sisik, rahang bawah tidak mempunyai gigi,mulut termodifikasi menjadi paruh, jantung terdiri dari empat ruang, mempunyai kantong udara atau kantong hawa (air sac) yang berperan dalam memmenolong sistem pernapasan terutama pada dikala terbang, berkembang biak dengan bertelur (oviparous) (Novarino, 2009).
Begitu banyak ciri-ciri dari kelas aves ini.
Dasar penting untuk mengidentifikasi di lapangan ada beberapa cara yaitu :
1.      Menentukan ukuran sanggup dilakukan dengan membandingkan ukuran burung yang sudah dikenalumumya,
2.      Bentuk burung tersebut gemuk, langsing, mempunyai buntut, danleher pendek atau panjang, akup pendek dan membulat atau panjang dan meruncing,
3.      Susunan warna ada perbedaan yang konkret pada susunan warna atau tidak, punya garis mata atau tidak, punya garis pada akup atau tidak, dan ada atau tidaknya bintik pada badan,
4.      Berbentuk kerucut paruhnya, langsing,bulat, pendek, panjang, lurus atau melengkung,
5.      Kaki pendek, sedang, ataupanjang, berselaput atau tidak, berlobus atau tidak,
6.      Teknik yang tidak kalahpentingnya dalam mengidentifikasi burung yakni dengan mengenali suaranya.(Priyono, 1991).
Suara sebagian besar burung yakni seistimewa penampilannya. Apalagi pada beberapa spesies, mirip burung yang suka mengoceh, bunyi mungkin menjadi satu- satunya abjad diagnosa lapangan.
Seorang pengamat burung berjalan melintasi hutan biasanya akan mendengar jauh lebih banyak bunyi burung atau dari pada melihatnya. Ornithologiist yang andal mengabaikan info yang benar-benar penting kalau tidak mendengar untuk mengenal bunyi burung-burung yang tidak sama (Mac Kinnon, 1991).
Aves hidup di darat. Kelompok ini dibedakan menjadi dua menurut kemampuan terbangnya, yaitu karinata dan ratita. Burung yang tergolong karinata mempunyai taju dada (carina). Taju dada berfungsi menyokong ototdadanya yang besar. Otot dada mempersembahkan kekuatan terbang. Pada penguin contohnya pinguin gentoo (Pygoscelis papua), yang ialah karinata yang tidak terbang, otot dadanya dipakai untuk berenang di maritim mencari kuliner (Mac Kinnon, 1991).

B.     Morfologi Aves
a)      Struktur Bulu
Bulu yakni ciri khas kelas aves yang tidak dimiliki oleh vertebrata lain. Hampir seluruh tubuh aves ditutupi oleh bulu, yang secara filogenetik berasal dari epidermal tubuh, yang pada reptile serupa dengan sisik. Secara embriologis bulu aves bermula dari papil dermal yang selanjutnya mencuat menutupi epidermis. Dasar bulu itu melekuk ke dalam pada tepinya sehingga terbentuk folikulus yang ialah lubang bulu pada kulit. Selaput epidermis sebelah luar dari kuncup bulu menanduk dan membentuk bungkus yang halus, sedang epidermis membentuk lapisan penyusun rusuk bulu.Sentral kuncup bulu mempunyai penggalan epidermis yang lunak dan mengandung pembuluh darah sebagai pembawa zat-zat kuliner dan proses pengeenteng pada perkembangan selanjutnya (Jasin, 1984).

Berdasarkan susunan anatomis bulu dibagi menjadi:
Filoplumae, Bulu-bulu kecil mirip rambut tersebar di seluruh tubuh. Ujungnya bercabang-cabang pendek dan halus. Jika diamati dengan seksama akan tampak terdiri dari shaft yang ramping dan beberapa barbulae di puncak.
·         Plumulae, Berbentuk berbentuk hampir sama dengan filoplumae dengan perbedaan detail.
·         Plumae, Bulu yang sempurna.
·         Barbae
·         Barbulae, Ujung dan sisi bawah tiap barbulae mempunyai filamen kecil disebut barbicels yang berfungsi memmenolong menahan barbula yang saling bersambungan.
Susunan plumae terdiri dari :
·         Shaft (tangkai), yaitu poros utama bulu.
·         Calamus, yaitu tangkai pertama bulu.
·         Rachis, yaitu lanjutan calamus yang ialah sumbu bulu yang tidak berongga di dalamnya. Rachis dipenuhi sumsum dan mempunyai jaenteng.
·         Vexillum, yaitu bendera yang tersusun atas barbae yang ialah cabang-cabang lateral dari rachis.

Gambar Struktur Bulu Burung
Lubang pada pertama calamus disebut umbilicus inferior, sedangkan lubang pada ujung calamus disebut umbilicus superior. Bulu burung pada dikala menetas disebut neossoptile, sedangkan sehabis pintar balig cukup akal disebut teleoptile.
Menurut letak dan posisinya, bulu aves dibedakan menjadi:
o   Tectrices, bulu yang menutupi badan.
o   Rectrices, bulu yang berada pada pertama buntut, vexilumnya simetris dan berfungsi sebagai kemudi.
Remiges, bulu pada akup yang dibagi lagi menjadi:
o   remiges primarie yang melekatnya secara digital pada digiti dan secara metacarpal pada metacarpalia.
o   Remiges secundarien yang melekatnya secara cubital pada radial ulna.
o   Remiges tertier yang terletak paling dalam nampak sebagai kelanjutan sekunder tempat siku.
o   Parapterum, bulu yang menutupi tempat bahu.
Ala spuria, bulu kecil yang menempel pada ibu jari (Jasin, 1984).
Pada burung heron terdapat bentukan bulu yang khusus yang disebut sebagai bulu powder/ bulu bubuk. Bulu ini hampir sama dengan bulu pada umumnya tetapi barbulaenya terpisah menjadi bubuk halus mirip bedak. Fungsi bulu ini belum jelas, tetapi pada dikala burung melumasi bulu dengan cara menjilatinya, bulu bubuk memmenolong mengisolasi gerah tubuh dan memmenolong menghangatkan telur dikala pengeraman.

C.    Fisiologi
1.      Sistem Rangka
a.      Struktur rangka
Burung mempunyai struktur tulang yang mengikuti keadaan untuk terbang.Adaptasi tulang burung yakni sebagai diberikut :
·         Burung mempunyai paruh yang lebih enteng dibandingkan rahang dan gigi pada binatang mamalia.
·         Burung mempunyai sternum (tulang dada) yang pipih dan luas, mempunyai kegunaan sebagai tempat pelekatan otot terbang yang luas.
·         Tulang-tulang burung berongga dan enteng .Tulang-tulang tersebut sangat berpengaruh alasannya yakni mempunyai struktur bersilang.
·         Sayap tersusun dari tulang-tulang yang lebih sedikit dibandingkan tulang-tulang pada tangan manusia.Hal ini berfungsi untuk mengurangi berat terutama ketika burung terbang.
·         Tulang belakang bergabung untuk memdiberi bentuk rangka yang padat,terutama ketika mengepakkan akup pada dikala terbang.
Burung juga mempunyai tulang-tulang yang khas yang sesuai untuk terbang.Anggota depan berubah fungsi menjadi akup.Tulang dan dada membesar dan memipih sebagai tempat melekatnya otot-otot dan akup.Hal ini memungkinkan burung untuk terbang.

b.      Fungsi Rangka
Berikut fungsi rangka pada burung perkutut :
·         Tengkorak : Melindungi otak dan isi kepala
·         Tulang leher : Untuk menghubungkan ke tempurung kepala.
·         Tulang lengan : Untuk menggerakkan akup.
·         Tulang hasta : Tulang akup yang menghubungkan dengan tulang lengan.
·         Tulang pengumpil : Tulang akup yang menghubungkan dengan tulang lengan.
·         Korakoid : Penghubung tulang dada.
·         Tulang dada : Tempat melekatnya otoT untuk terbang.
·         Tulang rusuk : Tulang yang melindungi isi perut.
·         Pelvis : Penghubung tulang buntut.
·         Tulang buntut : Tulang penghubung dengan kloaka.
·         Tulang kering : Penghubung tulang paha kebetis.
·         Tulang paha : Untuk persendian.

2.      Sistem Pencernaan
Organ pencernaan pada burung terbagi atas susukan pencernaan dan kelenjar pencernaan. Makanan burung bervariasi berupa biji-bijian, binatang kecil, dan buah-buahan.
Saluran pencernaan pada burung terdiri atas:
1.      Paruh: ialah modifikasi dari gigi, yang berfungsi untuk mengambil makanan
2.      Rongga mulut: terdiri atas rahang atas yang ialah penghubung antara rongga verbal danTanduk.
3.      Faring: berupa susukan pendek,
4.      Esofagus: pada burung terdapat pelebaran pada penggalan ini disebut tembolok, berperan sebagai tempat penyimpanan kuliner yang sanggup diisi dengan cepat,
5.      Lambung terdiri atas:
-         Proventrikulus (lambung kelenjar): banyak menghasilkan enzim pencernaan, dinding ototnya tipis.
-         Ventrikulus (lambung pengunyah/empedal): ototnya berdinding tebal.
Pada burung pemakan biji-bijian terdapat kerikil dan pasir yang tertelan bersama kuliner vang mempunyai kegunaan untuk memmenolong pencernaan dan disebut sebagai ” hen’s teeth”,
6.      Intestinum: terdiri atas usus halus dan usus tebal yang bermuara pada kloaka.
Usus halus pada burung terdiri dari duodenum, jejunum dan ileum.
Kelenjar pencernaan burung meliputi: hati, kantung empedu, dan pankreas.

-          Sistem Pencernaan burung
Pada verbal terdapat paruh yang sangat berpengaruh dan berfungsi untuk mengambil makanan.Makanan yang diambil oleh paruh kemudian masuk kedalam rongga verbal kemudian menuju kerongkongan.Bagian bawah kerongkongan membesar berupa kantong yang disebut tembolok.Kemudian masuk ke lambung kelenjar . Disebut lambung kelenjar alasannya yakni dindingnya mengandung kelenjar yang menghasilkan getah lambung yang berfungsi untuk mencerna makan secara kimiawi.Kemudian makan masuk menuju lambung pengunyah.
Disebut lambung pengunyah alasannya yakni dindingnya mengandung otot-otot berpengaruh yang mempunyai kegunaan untuk menghancurkan makanan.Didalam hati,empedal sering terdapat kerikil kecil atau pasir untuk memmenolong mencerna kuliner secara mekanis. Kemudian,makanan masuk menuju usus halus.Enzim yang dihasilkan oleh pankreas dan empedu dialirkan kedalam usus halus.Hasil pencernaan berupa sari- sari kuliner diserap oleh kapiler darah pada dinding usus halus.Burung mem-punyai dua usus buntu yang terletak antara lambung dan usus.Usus buntu mempunyai kegunaan untuk memperluas tempat perembesan sari makanan. Sisa kuliner didorong ke usus besar kemudian kedalam poros usus (rektum) dan balasannya dikeluarkan melalui kloaka.

-          Sistematis pencernaan kuliner pada burung :
Mulut / paruh → Kerongkongan → Tembolok → Lambung kelenjar →
Lambung pengunyah → Hati → Pankreas → Usus halus → Usus besar →
Usus buntu → Poros usus (rectum) → Kloaka.

3.      Sistem Pernafasan
Unggas dalam hal ini mengambil pola pada burung, burung mempunyai alat pernafasan (pulmo). Ukuran pulmo relatif kecil di bandingkan ukuran tubuhnya. Paru-paru burung terbentuk untuk bronkus primer, bronkus skunder da pembuluh brokiolus. Bronkus primer berafiliasi dengan mesobronkus yang ialah bronkiolus terbesar. Mesobronkus bercabang menjadi dua set bronkus sekunder anterior dan posterior yang disebut ventrobronkus dan dorsobronkus. Ventrobronkus dan dorsobronkus dihubungkan oleh parabronkus. Paru-paru burung mempunyai kurang/lebih 10000 buah. Parabronkus yang garis tengahnya kurang/lebih 0,5mm. sepasang paru-paru pada burung menempel di dinding dada penggalan dalam. Paru-paru burung mempunyai ekspansi yang disebut kantong udara sakus pneumatikus yang mengisi tempat selangka dada atas, dada bawah, tempat perut, tempat tulang humerus, dan tempat leher.

Alat pernapasan yang terdiri atas:
a.       Lubang hidung
b.      Celah tekaka pada faring, berafiliasi dengan trakea.
c.       Trakea berupa pipa dengan penebalan tulang rawan berbentuk cincin yang tersusun disepanjang trakea.
d.      Siring (alat suara), terletak dibagian bawah trakea. Dalam siring terdapat otot sternotrakealis yang menghubungkan tulang dada dan trakea, serta berfungsi untuk menimbulkan suara. Selain itu sanggup juga otot siringialis yang menghubungkan siring dengan dinding trakea sebelah dalam. Dalam rongga siring terdapat selaput yang simpel bergetar.
Getaran selaput bunyi tergantung besar kecilnya ruangan siring yang diatur oleh otot sternotrakealis dan otot siringialis.
e.       Bifurkasi trakea, yaitu percabangan trakea menjadi dua bronkus kanan dan kiri
f.       Bronkus (cabang trakea), tertletak antara siring dan paru-paru.
g.      Paru-paru dengan selaput pembungkus paru-paru yang disebut pleura.
Burung mempunyai alat menolong pernapasan yang disebut pundi-pundi udara yang berafiliasi dengan paru-paru. Fungsi pundi-pundi udara antara lain untuk memmenolong pernapasan dan memmenolong membesarkan rongga siring sehingga sanggup memperkeras suara. Proses pernapasan pada burung terjadi sebagai diberikut. Jika otot tulang rusuk berkontaksi, tulang rusuk bergerak ke arah depan dan tulang dada bergerak ke bawah.
Rongga dada menjadi besar dan tekanannya menurun. Hal ini menimbulkan udara masuk ke dalam paru-paru dan selanjutnya masuk ke dalam pundi-pundi udara.
Pada waktu otot tulang rusuk mengendur, tulang rusak bergerak ke arah belakang dan tulang dada bergerak ke arah atas. Rongga dada mengecil dan tekanannya menjadi besar, menimbulkan udara keluar dari paru-paru. Demikian juga udara dari pundi-pundi udara keluar melalui paru-paru. Pengambilan oksigen oleh paru-paru terjadi pada waktu wangsit dan ekspirasi. Pertukaran gas spesialuntuk terjadi di dalam paru-paru. Untuk lebih jelas, dibawah ini akan dijelaskan bagaimana prosedur pernapasan pada burung.
Pertukaran gas terjadi dalam paru-paru, tepatnya pada parabronkus yang banyak mengandung pembuluh-pembuluh darah. Paru-paru burung berafiliasi dengan sakus pneumatikus melalui mediator bronkus rekurens. Selain berfungsi sebagai alat menolong pernapasan dikala terbang, sakus pneumatikus juga memmenolong memperbesar ruang siring sehingga sanggup memperkeras suara, mencegah hilangnya gerah tubuh yang terlalu tinggi, menyelubungi alat-alat dalam untuk mencegah kedinginan, serta mengubah massa jenis tubuh pada burung-burung perenang. Perubahan massa jenis ini dengan cara memperbesar atau memperkecil kantong udara.
Pernapasan burung dilakukan dengan dua macam, yaitu pada terbang dan tidak terbang. Pada waktu tidak terbang, pernapasan terjadi alasannya yakni gerakan tulang dada sehingga tulang-tulang rusuk bergerak kemuka dan ke arah bawah. Akibatnya, rongga dada membesar dan paru-paru mengembang. Mengembangnya paru-paru menimbulkan udara luar masuk (inspirasi). Sebaliknya dengan mengecilnya rongga dada, paru-paru akan mengempis sehingga udara dari kantung udara kembali ke paru-paru. Jadi, udara segar mengalir melalui parabronkus pada waktu wangsit maupun ekspirasi sehingga fungsi paru-paru burung lebih efisien dari pada paru-paru mamalia.
Pada waktu terbang, gerakan aktif dari rongga dada tak sanggup berlangsung alasannya yakni tulang-tulang dada dan tulang rusuk ialah pertama pelekatan yang berpengaruh untuk otot-otot terbang. Akibatnya, wangsit dan ekspirasi dilakukan oleh kantung udara diketiak, caranya yakni dengan menggerak-gerakkan akup ke atas dan ke bawah. Gerakkan ini sanggup menekan dan melonggarkan kantong udara tersebut sehingga terjadilah pertukaran udara didalam paru-paru. Semakin tinggi terbang, burung harus semakin cepat menggerakkan akup untuk memperoleh semakin banyak oksigen. Frekuensi bernapas burung kurang lebih 25 kali permenit, sedangkan pada insan spesialuntuk 15-20 kali permenit.
Untuk mempelajari peredaran darah pada aves, kita ambil pola peredaran darah burung. Peredaran darah burung tersusun oleh jantung sebagai sentra peredaran darah, dan pembuluh-pembuluh darah. Darah pada burung tersusun oleh eritrosit berbentuk oval dan diberinti.
Jantung burung berbentuk kerucut dan terbungkus selaput perikardium. Jantung terdiri dari dua serambi yang berbdinding tipis serta dua billik yang dindingnya lebih tebal.
Pembuluh-pebmuluh darah dibedakan atas arteri dan vena. Arteri yang keluar dari bilik kiri ada tiga buah, yaitu dua arteri anonim yang bercabang lagi menjadi arteri-arteri yang memdiberi darah kebagian kepala, otot terbang, dan anggota depan; dan sebuah aorta yang ialah sisa dari arkus aortikus yang menuju kekanan (arkus aortikus yang menuju kekiri mereduksi). Pembuluh nadi ini kemudian melingkari bronkus sebelah kanan dan membelok kearah buntut menjadi aorta dorsalis (pembuluh nadi punggung). Pembuluh nadi yang keluar dari bilik kanan spesialuntuk satu, yakni arteri pulmonalis (pembuluh nadi paru-paru), yang kemudian bercabang menuju paru-paru kiri dan kanan.

Pembuluh balik atau vena dibedakan atas:
1.      Pembuluh balik tubuh penggalan atas (vena kava superior); vena ini membawa darah dari kepala, anggota depan, dan anggota otot-otot pektoralis menuju jantung.
2.      Pembuluh balik tubuh penggalan bawah (vena kava inferior); membawa darah dari penggalan bawah tubuh ke jantung.
3.      Pembuluh balik yang hadir dari paru-paru (pulmo) kanan dan paru-paru kiri serta membawa darah menuju serambi kiri jantung.

4.      Sistem Eksresi
Burung ialah salah satu binatang yang mempunyai manfaat yang tidak terhingga bagi insan diantaranya ada beberapa jenis burung mirip kalkun, bebek, angsa, ayam yang sudah dari doloe kita sudah terbiasa untuk mengonsumsi, baik daging dan telur yang mereka hasilkan sebagai kuliner yang mengandung protein yang baik bagi kesehatan tubuh manusia.
Sistem ekskresi pada aves bisa kita lihat pada jenis burung di mana burung mempunyai ginjal, paru-paru dan kulit, alat-alat tersebut ialah alat ekskresi. Bisa dilihat lebih jauh yakni bila Anda memelihara burung bahwa burung itu mempunyai ginjal yang warnanya coklat dan ginjal yang dimiliki burung yakni sepasang, jadi satu sama lain tentunya mempunyai fungsi yang saling menguntungkan.
Burung di dalam sistem pencernaannya akan mengeluarkannya dalam bentuk asam urat dan garam yang ialah hasil metabolisme yang sudah tidak diharapkan lagi oleh tubuh, sehingga dengan adanya sistem ekskresi pada aves ini akan megampangkan aves dalam beraktivitas dan juga semoga metabolisme tubuh pada aves bisa semakin sehat dan terpelihara dengan baik.

5.      Sistem Saraf
Susunan saraf pada burung serupa dengan susunan saraf pada insan dan binatang menyusui.Segala kegiatan saraf di atur oleh susunan saraf pusat.
Susunan saraf sentra terdiri dari otak dan sumsum belakang.Otak burung juga terdiri atas empat penggalan ,otak besar,otak tengah,otak kecil dan sum-sum lanjutan.Selain otak kecil maka otak besar pada burung juga bisa tumbuh dengan baik.Otak besar burung tidak sama dengan otak besar pada manusia.
Permukaan otak besar pada burung tidak berlipat-lipat,sehingga jumlah neuron padda burung berkembang dengan membentuk dua gelembung.Perkembangan ini berafiliasi dengan fungsi penglihatanya.
Otak kecil pada burung mempunyai lipatan-lipatan yang memperluas permukaan sehingga sanggup menampung sejumlah neuron yang cukup banyak.Perkembangan Otak kecil ini mempunyai kegunaan bagi pengaturan keseimbangan burung di waktu terbang.
Pada retina mata burung ada dua macam sel indra peserta rangsang cahaya, yaitu sel batang dan sel kerucut. Sel batang peka terhadap rangsang cahaya lemah sedangkan sel kerucut peka terhadap cahaya yang kuat. Burung malam mempunyai retina yang banyak mengandung sel batang. Burung siang mempunyai banyak sel kerucut. Lensa mata pada burung mempunyai kemudahan yang baik

6.      Sistem Reproduksi
Kelompok burung ialah binatang ovipar. Walaupun kelompok burung tidak mempunyai alat kelabuin luar, fertilisasi tetap terjadi di dalam tubuh. Hal ini dilakukan dengan cara saling menempelkan kloaka.
a.       Sistem Genitalia Jantan.
Testis berjumlah sepasang, berbentuk oval atau bulat, bagian- permukannya licin, terletak di sebelah ventral lobus penis penggalan paling kranial. Pada trend kawin ukurannya membesar. Di sinilah dibentuk dan disimpan spermatozoa.
Saluran reproduksi. Tubulus mesonefrus membentuk duktus aferen dan- epididimis. Duktus wolf bergelung dan membentuk duktus deferen. Pada burung-burung kecil, duktus deferen penggalan distal yang sangat panjang membentuk sebuah gelendong yang disebut glomere. Dekat glomere penggalan posterior dari duktus aferen berdilatasi membentuk duktus ampula yang bermuara di kloaka sebagai duktus ejakulatori.duktus eferen berafiliasi dengan epididimis yang kecil kemudian menuju duktud deferen. Duktus deferen tidak ada hubungannya dengan ureter ketika masuk kloaka.

b.      Sistem Genitalia Betina.
Ovarium. Selain pada burung elang, ovarium aves yang berkembang spesialuntuk yang kiri, dan terletak di penggalan dorsal rongga abdomen.
Saluran reproduksi, oviduk yang berkembang spesialuntuk yang sebelah kiri,- bentuknya panjang, bergulung, dilekatkan pada dinding tubuh oleh mesosilfing dan dibagi menjadi beberapa bagian; penggalan anterior yakni infundibulumyang punya penggalan terbuka yang mengarah ke rongga selom sebagai ostium yang dikelilingi oleh fimbre-fimbre. Di posteriornya yakni magnum yang akan mensekresikan albumin, selanjutnya istmus yang mensekresikan membrgua sel telur dalam dan luar. Uterus atau shell gland untuk menghasilkan cangkang kapur.

c.       Proses Fertilisasi
Pada burung betina spesialuntuk ada satu ovarium, yaitu ovarium kiri. Ovarium kanan tidak tumbuh tepat dan tetap kecil yang disebut rudimenter. Ovarium dilekati oleh suatu corong peserta ovum yang dilanjutkan oleh oviduk. Ujung oviduk membesar menjadi uterus yang bermuara pada kloaka. Pada burung jantan terdapat sepasang testis yang berhimpit dengan ureter dan bermuara di kloaka.
Fertilisasi akan berlangsung di tempat ujung oviduk pada dikala sperma masuk ke dalam oviduk. Ovum yang sudah dibuahi akan bergerak mendekati kloaka. Saat perjalanan menuju kloaka di tempat oviduk, ovum yang sudah dibuahi sperma akan dikelilingi oleh materi cangkang berupa zat kapur.
Telur sanggup menetas apabila dierami oleh induknya. Suhu tubuh induk akan memmenolong pertumbuhan embrio menjadi anak burung. Anak burung menetas dengan memecah kulit telur dengan memakai paruhnya. Anak burung yang gres menetas masih tertutup matanya dan belum sanggup mencari makan sendiri, serta perlu dibesarkan dalam masukang.

d.      Fungsi bagian-bagian telur aves :
o   Titik embrio –> penggalan yang akan berkembang menjandi embrio
o   Kuning telur –> cadangan kuliner embrio
o   Kalaza –> menjaga goncangan embrio
o   Putih telur –> menjaga embrio dari goncangan
o   Rongga udara –> cadangan oksigen bagi embrio
Jantung burung gereja berdetak 460 kali dalam semenit. Suhu tubuhnya yakni 108°F (42°C). Suhu tubuh setinggi ini, yang bisa berakibat simpulan hidup pada binatang darat, sangat penting bagi kelangsungan hidup sang burung. Tingkat energi yang tinggi yang diharapkan oleh burung untuk terbang dihasilkan oleh metabolisme tubuh yang cepat ini.
Dari tiruana jenis hewan, burung (kelas Aves) termasuk salah satu binatang yang simpel dikenal oleh insan alasannya yakni keunikanya. Struktur yang paling menonjol pada burung yakni bulu yang khas (feathers). bekerja sebagaimana mestinya sebagai epilog tubuh dan sebagai isolator yang ikut mengatur suhu tubuh. Fungsi lainnya yakni memmenolong proses dikala terbang. Kemampuan terbang memungkinkan burung mendiami beberapa habitat yang tidak terjangkau oleh binatang lain. Warna dan bunyi burung yang indah sangat menarikdanunik perhatian manusia. Nama burung yang klasik dalam bahasa Yunani adalah ornis, dan dalam bahasa latin adalah aves. Studi wacana burung disebut ornithologi.

7.      Sistem Transportasi
Sistem transportasi pada binatang Aves hampir mempunyai kesamaan dengan sistem transportasi pada manusia, yaitu sistem transportasi Aves dan Manusia dibangun oleh dua organ penting mirip pembuluh darah dan jantung.

Aves menyatakan bahwa jantung pada binatang tersebut terdiri atas empat wilayah, diantaranya serambi kanan dan serambi kiri, serta bilik kanan dan bilik kiri. Di mana diantara keduanya dibatasi oleh sebuah sekat yang sangat sempurna.
Sekat yang terdapat diantara serambi dan bilik pada jantung Aves sangat bermanfaa untuk memisahkan udara yang mengandung oksigen dengan karbon dioksida, dengan demikian kedua udara tersebut tidak bercampur menjadi satu. Peredaran darah pada biologi kelas 10 Avesialah jenis peredaran darah ganda dan tertutup.

8.      Sistem sirkulasi Aves
Alat ekskresi burung yakni paru-paru, ginjal, kulit, dan kloaka. Paru-paru dan kulit berfungsi untuk memmembuang sisa ekskresi berupa karbon dioksida dan air. Burung mengekskresikan asam urat sebagai limbah nitrogen yang utama. Asam urat diekskresikan dalam bentuk pasta.
Burung mempunyai sepasang ginjal yang terletak di penggalan kiri dan kanan tulang pinggang. Urine yang dihasilakn dikeluarkan tubuh melalui kloaka.
Burung maritim mirip bangsa Pelican mempunyai organ perhiasan untuk tetap bertahan hidup. Untuk memenuhi kebutuhan akan air, burung ini minum air maritim yang mempunyai serius garam tinggi. Garam ini kemudian diekstrak oleh dua kelenjar garam yang terdapat di kepalanya dan dikeluarkan melalui lubang hidungnya. Cairan yang dikeluarkan dari kelenjar garam lebih asin daripada darah

D.     Ciri-Ciri Kelas Aves
a.       Tubuhnya tertutup oleh bulu yang khas (feathers)
b.      Anggota gerak (tungkai) dua pasang. Tungkai depan berupa akup yang berfungsi untuk terbang. Tungkai belakang berfungsi untuk bertengger, berjalan atau berenang. Tiap-tiap kaki umumnya mempunyai empat buah jari.
c.       Kerangkanya ialah material yang tipis, berpengaruh dan mengalami osifikasi yang sempurna.
d.      Mulutnya berupa paruh yang menonjol dengan selubung zat tanduk.
e.       Jantung terdiri dari empat ruangan (dua buah antrium dan dua buah ventriculus). Eritrosit bernukleus dengan bentuk oval dan bikonveks.
f.       Bernafas dengan paru-paru dan mempunyai kantong-kantong udara, kotak bunyi (syrinx) terdapat pada pertama trachea.
g.      Kantong air seni tidak ada, hasil ekskresi setengah padat, burung betina umumnya spesialuntuk mempunyai ovarium dan oviduct sebelah kiri saja.
h.      Nervus cranialis ada 12 pasang.
i.        Suhu tubuh teratur sehingga relatif tetap (homoiotherm).
j.        Fertilisasinya berlangsung di dalam tubuh burung betina. Sel telur ini dibungkus oleh cangkang  yang keras. Dalam perkembangan embrionalnya terdapat selaput mirip amnion, chorion, yolk sac dan allantois.

E.     Klasifikasi Vertebrata (Aves) :
Burung termasuk dalam kelas aves dan beranggotakan lebih kurang 9000 spesies. Meski burung tidak mempunyai gigi dan spesialuntuk mempunyai buntut, binatang ini mempunyai kesamaan ciri dengan reptil, mirip bentuk tubuh, sisik kaki, paruh yang keras dan termasuk binatang ovivar yang menghasilkan telur amniotik bercangkang keras.
Klasifikasi burung berdasarkan tipe paruh, habitat dan tingkah laku. Keberagaman terlihat dari beragamnya ordo, antara lain burung pemburu yang mempunyai paruh menukik dan cakar tajam, burung pantai yang mempunyai paruh yang ramping dan tajam serta tungkai yang panjang, burung pelatuk yang berparuh mirip pahat dengan tipe kaki penggenggam, burung air yang mempunyai jari bersirip dan paruh lebar, penguin yang memodifikasi akup mirip dayung, dan burung pengicau yang mempunyai tipe kaki untuk bertengger.
Burung adalah satu-satunya binatang modern yang berbulu. Bulu tersebut ialah modifikasi dari sisik reptile.
Ada dua jenis bulu, yaitu bulu terbang dan bulu bawah yang mempunyai kegunaan untuk menghalangi hilangnya gerah tubuh. Hal tersebut penting karenaburung termasuk binatang homeoterm yaitu binatang yang memelihara suhu konstan dan relative tetap tinggi. Sehingga tetap sanggup aktif walau cuaca dingin.
Berdasarkan susunan anatominya, bulu sanggup dibagi menjadi tiga macam yaitu:
a.       Plumae,ialah bulu yang memdiberi dasar bentuk tubuh yang berada pada akup dan buntut, berfungsi untuk terbang.
b.      Plamulae,bulu yang terdapat pada burung yang masih muda dan pada burung yang sedang mengerami telur, berfungsi sebagai isolator (misalnya, suhu).
c.       Filoplumae, bulu yang mempunyai rambut. Bulu tersebbut tumbuh di seluruh permukaan tubuh. bekerja sebagaimana mestinya sebagai sensor.
Tubuh burung tidak sepenuhnya ditumbuhi oleh bulu. Sebagian permukaan kulit yang tidak berbulu disebut apteria sedangkan yang berbuku disebut pterilae.
Bentuk dan struktur tubuh burung sering dihubungkan dengan kemampuannya untuk terbang. Hal demikian berkaitan dengan dimilkinya tulang berronga udara yang sangat enteng. Paruh sanggup meggantikan fungsi rahang serta mempunyai leher ramping, tulang dada burung agak luas sesuai untuk penyeimbang tubuh dan dilengkapi oleh otot yang berpengaruh untuk terbang. Otot memperoleh energi melalui oksidasi di dalam tubuh. Oksigen tersebut mengalir satu arah melalui kantong udara (hawa) dan paru-paru. Fungsi kantong hawa (saccus pneumaticus) antara lain untuk memmenolong pernafasan ketika terbang, membungkus organ dalam semoga tidak kedinginan, mencegah hilangnya gerah terlalu banyak, mengatur berat jenis tubuh ketika berenang. Dan memmenolong memperkeras suara. Sistem peredaran darah ganda pad burung sudah lebih tepat alasannya yakni jantungnya terdiri atas empat ruang dan darah yang kaya O2 sudah terpisah dari darah miskin O2
Kemampuan terbang burung didukung oleh indra dan sistem saraf yang sudah berkembang dengan baik. Daya penglihatan burung sangat berpengaruh dan mempunyai refleks otot yang sangat baik. Adanya kemampuan terbang menimbulkan binatang ini sanggup bermigrasi dan mencari sumber kuliner sampai jauh dari habitat aslinya. Salauran pencernaan burung terdiri atas paruh, rongga mulut, taring esophagus, tembolok, lambung kelenjar, lambung pengunyah, usus halus, usus besar, dan kloaka. Tembolok ialah pelebaran dari esophagus.

Peranan aves bagi kehidupan manusia
Hampir seluruh potensi yang dimiliki burung sudah dimanfaatkan manusia, baik untuk kebutuhan konsumsi maupun ekonomi. Daging dan telur unggas ialah sumber lemak dan protein yang dibutuhkan manusia. Keindahan kicauan dan warna jenis burung tertentu menimbulkan insan tertarik untuk memeliharanya. Dahulu, bulu burung cendrawasih dijadikan hiasan kepala oleh sukusuku masyarakat di papua. Begitu juga kemempuan terbang beberapa jenis merpati dimanfaatkan untuk suatu hobi atau diperlombakan.
F.     Kelas Aves )

Klasifikasi
Nama
Catatan
Kerajaan
Animalia
Hewan: sistem Multicelular yang memdiberi makan oleh konsumsi.
Subkingdom
Eumetazoa
Hewan dengan tubuh yang terbuat dari dua atau lebih pihak simetris.
Cabang
Bilateria
Tubuh dengan dua sisi yang berlawanan simetris.
Divisi
Chordata
Chordata
Subphylum
Vertebrata
Vertebrata
Superclass
Gnathostomata
Vertebrata dengan rahang.
Kelas
Aves
Burung : Vertebrata dengan bulu.

1. Subclass Aves

Subclass
Deskripsi
Archaeornithes
Burung primitif
Enantiornithes
Burung Opposite
Benar burung

2. Subclass  Neornithes
Superorder
Nama Umum
Paleognathae
Ratities & tinamous
Neognathae
Terbang burung

BAB III
PENUTUP
A Kesimpulan
Aves ialah salah satu jenis makhluk hidup yang ialah penggalan dari ekosistem, pada umumnya Aves berhabitat di darat akan tetapi ada pula yang mencari kuliner di air.  
Ciri-ciri Aves : 
1.      Anggota gerak depan Aves adalah akup 
2.      Berdarah gerah 
3.      Suhu tubuh tetap 
4.      Fertilisasi secara internal 
5.      Jantung 2 serambi dan 2 bilik 
6.      Sekatnya sempurna 
7.      Alat pernafasan paru-paru dan pundi-pundi hawa (untuk burung-burung yang terbang) 
8.      Testis sepasang berkembang dengan baik, sedangkan ovarium yang berkembang spesialuntuk sebelah kiri. 
9.      Rangka tubuh terdiri dari tulang-tulang yang berpengaruh dan meliputi udara

klasifikasi Aves :
1.      Sphenisciformes, contohnya penguin raja 
2.      Pelecaniformes, contohnya burung camar 
3.      Anseriformes, contohnyaangsa/soang 
4.      Galliformes, contohnya merak 
5.      Columbiformes, contohnya merpati

B.     Saran
Dalam system penulisan makalah ini Kami sebagai penulis belum sanggup mengakui bahwa makalah ini benar-benar tepat sesuai dengan aslinya, namun itu  penulis membutuhkan masukan dan keritikan untuk sanggup memperbaiki makalah ini, dan muda-gampangan makalah ini sanggup bermanfaa bagi penulis dan kepada generasi penerus bangsa. Secara global.

Selengkapnya Klik DOWNLOAD